ArtikelMotivasiTokoh dan Sirah

Ummati.. Ummati..

“Sungguh telah datang padamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”
(Surah At-Taubah : 128)

Terlalu banyak kisah kewafatan Nabi Muhammad yang mengucapkan ummati, ummati (Iaitu berfikir tentang umatnya). Walaupun tidak ada riwayat sahih tentang ucapan ini ketika menjelang wafat beliau, maka sungguh kehidupan beliau mulai sejak diutus menjadi Rasul hingga akhir hidup bahkan kelak di hari kiamat, beliau sangat khuatir dan sangat mempedulikan umatnya.

Bukankah Allah sendiri telah mensifati Nabi Muhammad dengan Harishun ‘alaikum bil mukminiina Raoufun Rahiim?? Tidakkah kamu merenungi ucapan yang menggetarkan hati dan jiwa yang membaca ucapan itu?

Ibnu Katsir memberi pandangan mengenai Surah At-Taubah ayat 128 seperti yang dinyatakan diatas.

“Ucapan, (berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami), Nabi begitu merasakan berat (susah) dengan kesusahan yang dialami umatnya. Dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, maksudnya sangat menginginkan kalian mendapat petunjuk dan mendapatkan manfaat di dunia maupun di akhirat.”

Ayat ini sudah cukup menunjukkan bahwa Nabi begitu merasakan khuatir dan mengambil dengan umatnya sepanjang hidupnya bahkan kelak ketika di hari pembalasan, Nabi pun berusaha keras untuk menyelamatkan umatnya dari neraka. Untuk apa mereka mempermasalahkan riwayat “ummati, ummati” ketika menjelang kewafatan baginda s.a.w? Apakah mereka tidak percaya bahwa Nabi begitu mengambil berat dan khuatir atas umatnya ?? Bukankah nasihat-nasihat solat di akhir usia baginda
s.a.w juga menunjukkan kepedulian beliau atas umatnya agar tidak meninggalkan solat, supaya umatya bahagia dunia dan akhirat ?? Ayat di atas sudah cukup menjelaskan sifat mulia Nabi dan kekhuatiran Nabi
s.a.w atas umatnya sepanjang hidupnya.

“Sesungguhnya Nabi bertanya kepada Jibril, “Siapa yang memperhatikan umatku setelah wafatku?” maka Allah mewahyukan kepada Jibril untuk memberikan khabar gembira bahwa AKU (Allah) tidak akan melalaikan umatnya, dan berikan khabar padanya bahwa ia (Nabi) adalah manusia pertama (paling cepat) keluarnya dari kuburan ketika hari pembangkitan, dan pemimpin mereka di hari perkumpulan, dan sesungguhnya Syurga haram atas umat-umat lainnya sebelum umat Nabi memasukinya terlebih dahulu, maka Nabi berkata,
“Sekarang aku sudah tenang.”
(HR. Ath-Thabrani)

Hadis ini memang sanadnya dhaif, namun hadis dhaif bukanlah hadis maudhu’ yang mesti dibuang. Kerana ada kecacatan perawinya yang tidak terlalu parah. Hadis ini pun boleh diamalkan dalam bab manaqib (kisah-kisah) sesuai pendapat jumhur ulama’ ahli hadis.

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwasanya sayyidina Ali berkata :

“Sesungguhnya Rasulullah s.a.w di akhir hidupnya menggerakkan kedua bibirnya dua kali, lalu aku mendekatkan telingaku dan aku mendengar Nabi mengucapkan  ‘Ummatku, ummatku’ Secara pelan, lalu wafatlah Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam di hari Isnin bulan Rabi’ul Awwal.”

Dalam hadis sahih disebutkan bahwa ketika Nabi selesai membaca surat Ibrahim ayat 36 dan surat Al-Maidah ayat 118, maka Nabi mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan:

“Ya Allah, umatku, umatku, dan Nabi menangis. Maka Allah berkata, “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad – Dan Tuhanmu Maha Mengetahui – dan tanyalah kepadanya apa yang menyebabkannya menangis? maka Jibril mendatanginya dan bertanya, maka Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan apa yang telah diceritakan, maka Allah menjawab : “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad dan katakanlah, “ Sesungguhnya Kami akan meredhai umatmu, dan tidak akan berbuat buruk pada umatmu.”
(HR. Muslim)

Perhatikan hadis sahih ini, amat jelas menunjukkan bahwa Nabi s.a.w begitu cinta dan perhatiannya kepada umatnya, baginda s.a.w tidak rela umatnya celaka di dunia maupun di akhirat kelak. Baginda s.a.w menyebut ‘ummati’ dua kali. Renungi, dan resapi seruan dan doa Nabi tersebut dalam diri kita, bayangkan beliau menyebut nama kita dua kali….tidakkah engkau merasakan seruan lisan mulia Nabi s.a.w yang berdoa dan memohon kepada Allah agar kita sebagai umatnya diselamatkan dari neraka Allah?? sungguh kami khuatir mereka yang mempermasalahkan riwayat ‘ummati, ummati’ menjelang kewafatan Nabi, dicabut rasa cinta dan rindunya kepada Nabi, Allahumma nas’alukal ‘afwa wal ‘afiyah…

Dipetik daripada : Ustazah Shofiyyah An-Nuuriyah (jomfaham.blogspot.com)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close